Oleh Atra D. Sisco
Dari
dulu, saya selalu yakin bahwa sepanjang nyawa masih menempel di raga,
Allah pasti akan menerima taubat seseorang. Betapapun seseorang
tersebut berkali-kali melakukan kesalahan. Betapapun seseorang tersebut
tak menyadari betapa Allah telah berulang kali memberikannya
kesempatan untuk bertaubat. Oleh karena itulah, saya tidak pernah putus
asa menyemangati seseorang yang saya kenal, yang saya tahu sudah
begitu banyak kesalahan yang ia perbuat semasa hidupnya.
Kalau
ditanyakan kepada orang lain, mungkin beragam tanggapan yang akan saya
terima. Ada yang langsung bersikap sinis dan mengatakan bahwa dosa
orang tersebut terlalu besar. Dan mungkin ada pula yang memilih
bersikap skeptis bahwa seseorang tersebut tidak mungkin berubah sampai
kapanpun. Saya adalah salah seorang terdekat dari seseorang tersebut,
sebut saja si A, yang cukup mengetahui sejarah panjang ‘kelakuannya’
yang tak pernah tidak membuat orang lain geleng-geleng kepala. Bahkan
untuk beberapa kasus, saya sendiri terhitung menjadi korban akibat
perilakunya yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi,
entah kenapa, saya tetap saja ‘membela’ si A di hadapan orang lain
seraya mengatakan: “Ia sedang berusaha untuk bertaubat”.
Banyak
orang mungkin merasa heran dengan sikap saya tersebut. Padahal mereka
mengetahui apa saja yang telah diperbuat oleh si A terhadap diri saya.
Saya sendiri memang merasakan tak sedikit penderitaan yang saya rasakan
akibat ulah si A tersebut. Tetapi, sekali lagi, entah kenapa saya
selalu berusaha memaafkannya. Mungkin rasa sayang saya begitu besar
pada si A. Mungkin di lubuk hati saya yang paling dalam, saya begitu
mengharapkan si A untuk berubah, bertaubat, dan tidak lagi mengulangi
perbuatannya. Saya rasanya masih bisa membuka lebar-lebar hati saya
untuknya. Apalagi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini si A
memang benar-benar berubah, menurut saya. Saya jadi mensyukuri
keputusan saya untuk memaafkan segala perbuatan buruknya yang dilakukan
pada saya.
Melihat
perubahan demi perubahan yang terjadi pada dirinya, saya tak
habis-habis mengucap syukur pada Allah. Bahkan kadang-kadang saya tidak
percaya, bahwa si A bisa begitu berubah. Ia tak pernah tidak menunaikan
shalat tepat waktu. Ketika adzan berkumandang, ia langsung bangkit
dari aktivitasnya dan langsung mengambil wudhu. Saat hari Jumat tiba,
ia dengan begitu bersemangat berjalan kaki dari rumah menuju masjid
terdekat. Seringkali saya terharu melihatnya tersenyum-senyum pulang ke
rumah dengan sajadah tersampir di pundak. Pun ketika saya mendapatinya
begitu rajin berpuasa sunnah setiap hari Senin dan Kamis.
Sewaktu
ia berada di luar rumah, misalnya sedang berjalan-jalan ke sebuah mal,
ia dengan percaya dirinya langsung menghampiri mushala untuk
menunaikan shalat apabila waktunya telah tiba. Saya melihat semangat
menuju kebaikan yang tak habis-habisnya pada diri si A. Dan rasanya
saya ingin melakukan apapun untuk membuatnya tambah bersemangat, dan
memberikan sedikit ilmu yang saya punya untuknya. Ternyata benar,
memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah bisa jadi akan
menimbulkan semangat pada dirinya untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Allah saja mengampuni seluruh dosa hamba-hamba-Nya, masa manusia
tidak? Begitu keyakinan saya.
Dalam
banyak diskusi yang kami lakukan, saya pun mendapati dirinya penuh
keingintahuan tentang Islam. Tak jarang kami mengobrol lama mengenai
hal-hal yang ingin diketahuinya. Dan saya sendiri merasakan bahwa
sepertinya saya yang jadi bersemangat untuk menceritakan dan
memberitahukan segala hal yang saya tahu kepadanya. Tak henti-hentinya
saya bersyukur pada Allah akan kesempatan yang Ia berikan pada si A
untuk memperbaiki diri.
Suatu
hari, secara tak sengaja saya mendengar sebuah kabar mengejutkan dari
seorang saudara saya. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui si A melakukan
lagi perbuatan yang sudah lama ia tinggalkan. Saya kontan saja kaget.
Benar-benar tidak menyangka. Saya meminta saudara saya itu untuk
memeriksa kembali, bahkan memintanya untuk memberikan bukti-bukti kepada
saya akan perbuatan yang dilakukan si A.
Dan
demikianlah, beberapa bukti yang secara tidak sengaja ditemukan oleh
saudara saya itu, benar-benar membuat saya kaget. Sepertinya saya tidak
mau percaya. Dan si A berusaha untuk berkilah, menghindari pertanyaan
yang kami berdua sodorkan. Awalnya saya menemukan rasa sesal dan mungkin
sedikit rasa takut pada diri si A bahwa perbuatannya telah diketahui.
Tetapi ketika kedua kalinya saya memintanya untuk menjelaskan,
pernyataan yang saya dapatkan adalah ”Apa ada yang salah?”
Saya
rasanya tidak bisa lagi mengobati rasa kecewa ini, pada saat ini. Dan
saya tidak tahu kapan saya akan bisa memberikan maaf untuknya yang ke
sekian kalinya menyakiti lagi diri saya, dan juga keluarga kami.
Kesalahan yang diperbuat untuk yang kedua kalinya, atau entah ke sekian
kali. Memang ada saja ulah setan untuk menggoda manusia yang sedang
berusaha bertaubat. Memang selalu ada ujian-ujian bagi orang-orang yang
ingin meningkatkan keimanannya.
Memang
hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan dan mencabut hidayah
pada diri seseorang. Saya benar-benar kecewa. Tetapi satu hal yang saat
ini sedang saya usahakan dengan sangat keras untuk tetap mendiami hati
saya. Sebuah keyakinan bahwa taubat seseorang akan selalu diterima
oleh Allah, sampai waktu ajalnya tiba nanti. Dan saya berdoa, agar
Allah masih berkenan untuk memberikan ampunan serta kesempatan pada si A
untuk sekali lagi bertaubat.
